BismilllaahirRahmaa nirRahiim
Assalaamu'alaykum, sahabats sekalian
Anda sekalian tentu sudah melihat kebiadaban Israel hari ini. Seratus lima puluh lima (jumlahnya bertambah terus) saudara kita di Gaza --yang selama 1,5 tahun ini dipaksa lapar dan sakit tanpa obat oleh blokade Israel-- pagi tadi dibantai dengan 30 rudal Israel.
Tubuh-tubuh kami di Damaskus yang jaraknya hanya 60km dari Palestina, bergetar keras, bukan karena musim dingin yang sedang mendaki ke puncaknya, tetapi karena amarah atas kebiadaban Zionis Israel.
Di Aljazeera, di Almanar, di AFP dan Reuters, kami menyaksikan puluhan saudara-saudara kita menghadapi Sakaratul Maut sambil bersusahpayah mengangkat tangan ke atas sambil menggumamkan kalimat tauhid "Laa ilaaha illa ALLLAH!"
Masjid-masjid di seantero Damaskus basah oleh air mata para jama'ah, ketika para imam menutup rakaat terakhir solat Asar tadi dengan Qunut Nazilah yang menggetarkan. Para imam itu mengangkat tangan ke langit dan berdoa,
"Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
turunkan para Malaikatmu untuk membantu para Mujahidin di Gaza dan Seluruh Palestina,
sebagaimana telah kau turunkan ribuan Malaikat di Badar, di Khandaq dan di Tabuk.
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
ringankanlah penderitaan saudara-saudara kami di Gaza,
kuatkanlah terus generasi baru dari antara anak-anak mereka,
menjadi generasi yang akan membawa kami pada kejayaan Islam lewat Jihad fii Sabiilillah.
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
janganlah Kau biarkan kami termasuk orang-orang yang berpangku tangan melihat kezaliman atas saudara-saudara kami.
Daftarkan nama-nama kami dalam daftar panjang para Mujahidin Mukhlisin dan para Syuhada yang menjemput Syurga-Mu.
Jangan Kau biarkan dunia yang hina ini melingkupi kehidupan kami sampai lupa pada Negeri Akhirat-Mu.
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
anugerahkan kepada kami kesabaran memegang teguh agama-Mu dan wafatkan kami dalam keadaan Muslim."
Angkat tangan kita, aminkan doa ini.
Catatkan nama kita, infaqkan sebagian harta kita di jalan suci ini.
Ustadz Ferry Nur di KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) siap membantu kita menyambungkan getaran amarah ini menjadi kekuatan yang dahsyat ke Gaza.
Hubungi beliau di 02191023223 atau HP.08128173107
wassalaam,
Muhammad 'Isa
MENAHAN ANGIN KARENA ARBAIN
By Republika Newsroom
Ketika pertama kali saya mendengar Arbain saat manasik haji, saya sempat terkesima. Menurut Ustadz yang memberikan ceramah itu, jika kita shalat berjamaah tak putus selama 40 kali di Masjid Nabawi, Insya Allah, kita dijamin tak akan terkena panasnya api neraka dan dimudahkan rezeki.Dalam benak saya saat itu, saya harus bisa melaksanakan Arbain ini, bagaimanapun caranya. Tentunya, supaya saya tak putus sholat berjamaah selama 40 waktu ini, saya harus bisa menjaga kesehatan dan mengatur waktu supaya tak ketinggalan imam.
Ketika di Madinah, saya benar-benar disiplin menjaga waktu agar tak tertinggal shalat berjamaah. Satu-dua jam sebelum waktu shalat, saya dan beberapa jamaah sudah berada di Masjid Nabawi. Malah sebelum Shalat Subuh, biasanya dari pukul 03.00 dini hari, masjid sudah penuh dengan jamaah asal Indonesia.
Yang mengherankan, dari pemantauan saya, jarang sekali jamaah dari luar Indonesia. Suatu saat, ketika sedang duduk menunggu waktu shalat di Masjid Nabawi, saya sempat berdiskusi dengan beberapa jamaah asal Mesir, Afganistan, dan Pakistan. Ketika saya menceritakan soal Arbain, mereka sempat bingung. Menurut pengakuan mereka, baru kali ini mereka mendengar ada yang namanya Arbain. Bagi mereka, untuk shalat berjamaah di Masjid Nabawi hukumnya fardhu. ''Bukan apa-apa, kapan lagi kita bersembahyang di masjid yang didirikan Rasul, kalau bukan di Madinah? Kami tak mengenal waktu apakah harus 40, 50 atau 60 kali,'' ujar jamaah asal Mesir itu.
Dan bagi mereka, yang namanya shalat berjamaah itu hukumnya juga fardhu. ''Aneh ya orang Indonesia,'' kata seorang jamaah mengomentari pernyataan saya. Waktu itu saya tak bisa menjawab, karena saya tak mengerti ilmunya. Namun anggapan soal Arbain ini membuat saya berpikir kembali, apakah benar bahwa Arbain ini memang disunnahkan oleh Rasul atau hanya bikinan orang Indonesia saja. Bukan apa-apa, persoalan utama yang menggangu pikiran saya, karena kelakuan teman-teman jamaah di rombongan saya.
Kebetulan rombongan saya tinggal di Madinah selama 11 hari. Untuk memenuhi 40 waktu berturut-turut artinya butuh delapan hari. Nah, lucunya, usai menyelesaikan 40 kali shalat itu, saya melihat bagaimana teman-teman jamaah seolah terbebas dari kewajiban shalat berjamaah di Masjid. Mereka lebih senang berbelanja dan berjalan-jalan. Malah di saat mulai masuk waktu shalat, ada beberapa jamaah yang masih nongkrong di lobby hotel. ''Kan sudah Arbain, santai saja Pak, nggak usah terburu-buru,'' kata seorang jamaah, ketika diajak ke masjid.
Saya hanya tertawa geli mendengar omongan jamaah yang usianya tak cukup jauh dengan saya itu. Kebetulan saya punya pengalaman lucu dengan dia.Dua hari sebelumnya, ia bersama saya menunggu waktu qomat shalat Isya di masjid. Saat itu, mukanya sudah pucat pasi dan badannya bergerak terus. Ketika saya tanyakan, ia menjawab, bahwa ia masuk angin dan bawaanya ingin buang angin terus. Waktu itu saya bilang supaya dikeluarkan saja dan segera bergegas untuk mengambil wudhu. Ia menolak dengan alasan tempat wudhu jaraknya cukup jauh dan untuk kembali ke tempatnya membutuhkan waktu yang cukup lama. ''Takut nggak kebagian Arbain,'' katanya menghela nafas.
Namun yang namanya menahan angin di tubuh jelas sangat tidak sehat. Saya melihat teman jamaah ini sudah tak konsentrasi lagi. Ketika imam mulai membaca surat pendek usai Al-fatihah, ia bersin dengan cukup keras. Namun seiring bersin yang keluar dari mulut, dari mulut belakangpun rupanya keluar juga suara yang cukup menggangu. ''Dutttt.''
Sambil menahan malu, si teman jamaah ini langsung duduk dan tangannya menepuk-nepuk karpet masjid. Rupanya ia bertayamum. ''Yang penting jangan ketinggalan Arbain,'' papar dia usai shalat. Shalat usai dan ia pun bercerita soal kekuatannya menahan dorongan 'angin dari bawah' selama shalat berjamaah. ''Dua hari terakhir ini saya kena flu dan masuk angin, tapi Alhamdullilah saya kuat menahan 'angin','' katanya sambil meringis. Subhannalah
Usai Arbain, tak hanya dia yang punya cerita. Ceritaa-cerita lucu mengalir dari teman sesama jamaah dalam upayanya tak ketinggalan shalat berjamaah. Dari sekian banyak cerita ini, saya bisa mengambil kesimpulan, jamaah takut dengan Arbain daripada memelihara kualitas ibadahnya itu sendiri.m irwan ariefyanto
Ketika pertama kali saya mendengar Arbain saat manasik haji, saya sempat terkesima. Menurut Ustadz yang memberikan ceramah itu, jika kita shalat berjamaah tak putus selama 40 kali di Masjid Nabawi, Insya Allah, kita dijamin tak akan terkena panasnya api neraka dan dimudahkan rezeki.Dalam benak saya saat itu, saya harus bisa melaksanakan Arbain ini, bagaimanapun caranya. Tentunya, supaya saya tak putus sholat berjamaah selama 40 waktu ini, saya harus bisa menjaga kesehatan dan mengatur waktu supaya tak ketinggalan imam.
Ketika di Madinah, saya benar-benar disiplin menjaga waktu agar tak tertinggal shalat berjamaah. Satu-dua jam sebelum waktu shalat, saya dan beberapa jamaah sudah berada di Masjid Nabawi. Malah sebelum Shalat Subuh, biasanya dari pukul 03.00 dini hari, masjid sudah penuh dengan jamaah asal Indonesia.
Yang mengherankan, dari pemantauan saya, jarang sekali jamaah dari luar Indonesia. Suatu saat, ketika sedang duduk menunggu waktu shalat di Masjid Nabawi, saya sempat berdiskusi dengan beberapa jamaah asal Mesir, Afganistan, dan Pakistan. Ketika saya menceritakan soal Arbain, mereka sempat bingung. Menurut pengakuan mereka, baru kali ini mereka mendengar ada yang namanya Arbain. Bagi mereka, untuk shalat berjamaah di Masjid Nabawi hukumnya fardhu. ''Bukan apa-apa, kapan lagi kita bersembahyang di masjid yang didirikan Rasul, kalau bukan di Madinah? Kami tak mengenal waktu apakah harus 40, 50 atau 60 kali,'' ujar jamaah asal Mesir itu.
Dan bagi mereka, yang namanya shalat berjamaah itu hukumnya juga fardhu. ''Aneh ya orang Indonesia,'' kata seorang jamaah mengomentari pernyataan saya. Waktu itu saya tak bisa menjawab, karena saya tak mengerti ilmunya. Namun anggapan soal Arbain ini membuat saya berpikir kembali, apakah benar bahwa Arbain ini memang disunnahkan oleh Rasul atau hanya bikinan orang Indonesia saja. Bukan apa-apa, persoalan utama yang menggangu pikiran saya, karena kelakuan teman-teman jamaah di rombongan saya.
Kebetulan rombongan saya tinggal di Madinah selama 11 hari. Untuk memenuhi 40 waktu berturut-turut artinya butuh delapan hari. Nah, lucunya, usai menyelesaikan 40 kali shalat itu, saya melihat bagaimana teman-teman jamaah seolah terbebas dari kewajiban shalat berjamaah di Masjid. Mereka lebih senang berbelanja dan berjalan-jalan. Malah di saat mulai masuk waktu shalat, ada beberapa jamaah yang masih nongkrong di lobby hotel. ''Kan sudah Arbain, santai saja Pak, nggak usah terburu-buru,'' kata seorang jamaah, ketika diajak ke masjid.
Saya hanya tertawa geli mendengar omongan jamaah yang usianya tak cukup jauh dengan saya itu. Kebetulan saya punya pengalaman lucu dengan dia.Dua hari sebelumnya, ia bersama saya menunggu waktu qomat shalat Isya di masjid. Saat itu, mukanya sudah pucat pasi dan badannya bergerak terus. Ketika saya tanyakan, ia menjawab, bahwa ia masuk angin dan bawaanya ingin buang angin terus. Waktu itu saya bilang supaya dikeluarkan saja dan segera bergegas untuk mengambil wudhu. Ia menolak dengan alasan tempat wudhu jaraknya cukup jauh dan untuk kembali ke tempatnya membutuhkan waktu yang cukup lama. ''Takut nggak kebagian Arbain,'' katanya menghela nafas.
Namun yang namanya menahan angin di tubuh jelas sangat tidak sehat. Saya melihat teman jamaah ini sudah tak konsentrasi lagi. Ketika imam mulai membaca surat pendek usai Al-fatihah, ia bersin dengan cukup keras. Namun seiring bersin yang keluar dari mulut, dari mulut belakangpun rupanya keluar juga suara yang cukup menggangu. ''Dutttt.''
Sambil menahan malu, si teman jamaah ini langsung duduk dan tangannya menepuk-nepuk karpet masjid. Rupanya ia bertayamum. ''Yang penting jangan ketinggalan Arbain,'' papar dia usai shalat. Shalat usai dan ia pun bercerita soal kekuatannya menahan dorongan 'angin dari bawah' selama shalat berjamaah. ''Dua hari terakhir ini saya kena flu dan masuk angin, tapi Alhamdullilah saya kuat menahan 'angin','' katanya sambil meringis. Subhannalah
Usai Arbain, tak hanya dia yang punya cerita. Ceritaa-cerita lucu mengalir dari teman sesama jamaah dalam upayanya tak ketinggalan shalat berjamaah. Dari sekian banyak cerita ini, saya bisa mengambil kesimpulan, jamaah takut dengan Arbain daripada memelihara kualitas ibadahnya itu sendiri.m irwan ariefyanto
CALO HAJAR ASWAD
Teman saya seorang jamaah amat ingin mencium Hajar Aswad. Sebutlah namanya Fansuri (bukan nama sebenarnya). Ia iri dengan kisah sesama jamaah yang berhasil mencium Hajar Aswad karena beberapa kali ia mencoba trik yang diajarkan untuk mencapai Hajar Aswad tapi selalu gagal.
''Mungkin belum diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa,'' tuturnya sedih. Waktu tinggal di Makkah tinggal hitungan hari karena kami harus ke Madinah. Pak Fansuri ini semakin gelisah. Ia minta bantuan saya yang berbadan besar. ''Sampean kan badannya besar, tolong bantu saya,'' ujarnya berharap.
Ternnyata saya juga tak berhasil mengawalnya mencium Hajar Aswad. Sebaliknya sayalah yang berhasil. ''Kenapa ya saya susah sekali mencium Hajar Aswad, padahal tadi saya dan sampean yang dekat sekali. Justru sampean yang berhasil,'' katanya semakin sedih.
Sehari menjelang keberangkatan ke Madinah, teman ini mencoba lagi. Dengan bekal sejumlah trik yang ia dapatkan dari saya dan teman-teman, ia mencoba terus. Putaran pertama thawaf, ia terlempar keluar. Demikian juga dengan putaran kedua dan ketiga. Di putaran keempat sebelum mendekati Hajar Aswad, ia masuk dulu ke Hijr Ismail.
Usai shalat sunnah di tempat ini, ia menangis dan berdoa agar diberi kemudahan mencium Hajar Aswad. Selesai berdoa, ia pun berjalan perlahan mendekati Hajar Aswad. Sambil bergerak, ia pun mulai mencari celah supaya tak terlempar lagi dari pusaran thawaf. Tiba-tiba, tiga anak muda berpakaian bersih mendekati dirinya. ''Pak mau ke Hajar Aswad? Mari kami bantu,'' ujarnya.
Pak Fansuri kaget bukan kepalang karena tak menyangka ada yang membantu saat ia kesulitan menembus rapatnya kerumunan. ''Alhamdullilah ya Allah, mungkin ini malaikat yang kau kirimkan untuk menjawab doaku,'' katanya. Dengan berlinang air mata ia pun dikawal mendekati Hajar Aswad. Tanpa banyak kesulitan, ia pun berhasil mencium Batu Surga itu. Tak lama ia lantas ditarik ke luar lingkaran thawaf. Padahal ia bermaksud meneruskan thawafnya yang belum rampung.
Setelah agak jauh dari Ka'bah, ketiga anak muda ini membisikkan sesuatu ke telinganya. ''Maaf Pak, kami dari Banjar. Di sini kami kerja untuk menopang hidup. Kami sudah antar bapak, sekarang kami minta 500 rial untuk mengantar Bapak.'' Pak Fansuri terperanjat. ''Lho kalian ini bukan Malaikat?'' tanyanya.''Bukan, Pak, kami biasa mengantar jamaah yang mau mencium Hajar Aswad,'' kata salah satu anak muda itu.
''Semprull, saya pikir kalian Malaikat. Wah saya tak bawa uang sebanyak itu,'' ujar Pak Fansuri sewot. ''Ya sudah pak, berapa saja,'' kata mereka. Ia menyerahkan uang di sakunya. ''Nih hanya ada 20 rial sama 50 ribu perak,'' ujarnya sambil menepuk-nepuk sakunya. ''Kirain Malaikat, ternyata kalian calo Malaikat,'' kata Pak Fansuri semakin sewot.
Tak mau meladeni, ketiganya berlalu saja. ''Kalau tadi mereka calo, ngapain juga saya mau diantar mereka,'' ujar Pak Fansuri menceritakan kisahnya.''Lha pak, kan sudah berhasil usahanya, kenapa masih sewot,'' kata saya ketika itu.
''Ya ya...mungkin karena saya pikir malaikat beneran, ternyata calo gentayangan,'' gerutunya. m irwan ariefyanto
''Mungkin belum diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa,'' tuturnya sedih. Waktu tinggal di Makkah tinggal hitungan hari karena kami harus ke Madinah. Pak Fansuri ini semakin gelisah. Ia minta bantuan saya yang berbadan besar. ''Sampean kan badannya besar, tolong bantu saya,'' ujarnya berharap.
Ternnyata saya juga tak berhasil mengawalnya mencium Hajar Aswad. Sebaliknya sayalah yang berhasil. ''Kenapa ya saya susah sekali mencium Hajar Aswad, padahal tadi saya dan sampean yang dekat sekali. Justru sampean yang berhasil,'' katanya semakin sedih.
Sehari menjelang keberangkatan ke Madinah, teman ini mencoba lagi. Dengan bekal sejumlah trik yang ia dapatkan dari saya dan teman-teman, ia mencoba terus. Putaran pertama thawaf, ia terlempar keluar. Demikian juga dengan putaran kedua dan ketiga. Di putaran keempat sebelum mendekati Hajar Aswad, ia masuk dulu ke Hijr Ismail.
Usai shalat sunnah di tempat ini, ia menangis dan berdoa agar diberi kemudahan mencium Hajar Aswad. Selesai berdoa, ia pun berjalan perlahan mendekati Hajar Aswad. Sambil bergerak, ia pun mulai mencari celah supaya tak terlempar lagi dari pusaran thawaf. Tiba-tiba, tiga anak muda berpakaian bersih mendekati dirinya. ''Pak mau ke Hajar Aswad? Mari kami bantu,'' ujarnya.
Pak Fansuri kaget bukan kepalang karena tak menyangka ada yang membantu saat ia kesulitan menembus rapatnya kerumunan. ''Alhamdullilah ya Allah, mungkin ini malaikat yang kau kirimkan untuk menjawab doaku,'' katanya. Dengan berlinang air mata ia pun dikawal mendekati Hajar Aswad. Tanpa banyak kesulitan, ia pun berhasil mencium Batu Surga itu. Tak lama ia lantas ditarik ke luar lingkaran thawaf. Padahal ia bermaksud meneruskan thawafnya yang belum rampung.
Setelah agak jauh dari Ka'bah, ketiga anak muda ini membisikkan sesuatu ke telinganya. ''Maaf Pak, kami dari Banjar. Di sini kami kerja untuk menopang hidup. Kami sudah antar bapak, sekarang kami minta 500 rial untuk mengantar Bapak.'' Pak Fansuri terperanjat. ''Lho kalian ini bukan Malaikat?'' tanyanya.''Bukan, Pak, kami biasa mengantar jamaah yang mau mencium Hajar Aswad,'' kata salah satu anak muda itu.
''Semprull, saya pikir kalian Malaikat. Wah saya tak bawa uang sebanyak itu,'' ujar Pak Fansuri sewot. ''Ya sudah pak, berapa saja,'' kata mereka. Ia menyerahkan uang di sakunya. ''Nih hanya ada 20 rial sama 50 ribu perak,'' ujarnya sambil menepuk-nepuk sakunya. ''Kirain Malaikat, ternyata kalian calo Malaikat,'' kata Pak Fansuri semakin sewot.
Tak mau meladeni, ketiganya berlalu saja. ''Kalau tadi mereka calo, ngapain juga saya mau diantar mereka,'' ujar Pak Fansuri menceritakan kisahnya.''Lha pak, kan sudah berhasil usahanya, kenapa masih sewot,'' kata saya ketika itu.
''Ya ya...mungkin karena saya pikir malaikat beneran, ternyata calo gentayangan,'' gerutunya. m irwan ariefyanto
Haji Tempoe doeloe
Saat haji tahun 2006, sebuah pengalaman spiritual yang amat berkesan dalam hidup.Hal sperti itu pasti juga akan dirasakan oleh semua orang.Sejak proses keberangkatan naik pesawat yang mungkin kebanyakan orang belum pernah merasakan, pasti ini kesan yang cukup dalam.Bagaimana tidak, negeri jauh yang tidak tahu tepat posisinya dimana cuma ditempuh dalam waktu yang cukup singkat hanya 11 jam, berbeda jauh dengan apa yang pernah dijalani oleh kaum muslimin saat menggunakan kapal laut, berbulan-bulan lamanya.
Untuk mengingat kembali seperti Berhaji pada TEMPOE DOELOE berikut saya sadurkan tulisan wartawan antara yang di muat di Harian Republika.
''Ada kabar gembira untuk anda. Bersama wartawan 'Merdeka' Adirsyah (kini sudah almarhum), Menteri menunjuk anda untuk menunaikan ibadah haji,'' ujarnya. Sulit membayangkan bagaimana gembiranya saya, mendapat undangan ini. Meski setahun sebelumnya (1973) saya sudah menunaikan ibadah umroh setelah menghadiri ulang tahun ke-10 kemerdekaan Aljazair di Aljir, namun dapat pergi ke Tanah Suci pada musim haji, merupakan rahmat yang tak terkira bagi saya.
Meskipun saya tidak melakukan selamatan, tapi beberapa hari menjelang keberangkatan, tamu-tamu termasuk para kerabat berdatangan untuk memberikan doa restu. Saat hendak meninggalkan kediaman di kawasan Tanah Abang menuju karantina haji di bekas markas KKO (kini Marinir) samping RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, saya yang berpakaian jas dan peci hitam (waktu itu belum ada seragam haji), dilepas secara meriah kumandang azan.
Banyak di antaranya meminta saya untuk memanggil-manggil namanya di depan Ka'bah dan menyampaikan salam pada Rasulullah saat berziarah ke Madinah. Begitu banyaknya permintaan hingga saya sendiri banyak lupa nama-nama mereka.Kala itu karantina haji berlangsung selama tiga hari. Istri dan anak-anak yang datang menjenguk, hanya bisa melihat saya dari luar pintu pagar. Kami dilarang bersalaman, kecuali bercakap agak jauh dengan suara agak keras.
Sekitar pukul tiga dini hari, kloter kami menuju Bandara Halim Perdanakusumah, tanpa bisa pamitan lebih dulu dengan keluarga. Keberangkatan pesawat kloter saya, hampir bersamaan berangkat pula kloter dari embarkasi Surabaya.Saat itu, pesawat yang berangkat dari Surabaya ini mengbelami kecelakaan di Kolombo, Srilangka. Seluruh calon jamaah haji yang berjumlah 300 orang termasuk para awak pesawat meninggal dunia. Kami mengetahui kecelakaan ini ketika tiba di Tanah Suci.
Tapi di Jakarta keluarga menjadi panik. Adik saya, Ali Shahab sampai ke Halimn PK dan baru menjadi lega setelah mendapat informasi bahwa pesawat yang jatuh berasal dari Surabaya. Waktu itu, untuk melakukan hubungan telpon dari Tanah Suci ke Tanah Air, masih sangat sulit.
Waktu itu, Jakarta menjadi transit bagi calon-calon jamaah haji daerah lain, seperti Kalbar, Sumsel, Jawa Barat dan DKI sendiri. Sementara fasilitas pengasramaan dan karantina terbatas. Asrama haji di Pondok Gede belum lagi dibangun. Asrama haji di Cempaka Putih hanya dapat menampung tidak lebih dari 1000 jamaah.
Jumlah jamaah haji Indonesia yang kini lebih dari 200 ribu orang, kala itu tidak lebih dari 40 ribu orang. Jumlah ini pun sudah membludak, karena tahun-tahun sebelumnya saat ke tanah suci melalui kapal laut, jamaah tidak pernah lebih dari 10 ribu orang.Waktu itu bukan main sulitnya menunaikan ibadah haji. Bisa menunggu bertahun-tahun. Bahkan seringkali terjadi, bila gilirannya tiba, calon jamaahnya sudah meninggal dunia.
Setiba di Tanah Suci, sebagai wartawan, saya dan rekan saya dari Tanah Air, segera mendatangi KBRI yang kala itu kantornya berada di Jeddah. Saya beruntung, ketika bertemu dengan Pak Arifin, Atase Penerangan RI di Arab Saudi, disebutkan bahwa Kementerian Penerangan Arab Saudi, setiap tahun mengundang dua orang wartawan dari negara-megara Islam sebagai tamu negara.
''Karena belum ada wartawan Indonesia yang terdaftar, bagaimana kalau saya daftarkan anda berdua sebagai tamu negara.'' Tentu saja tawaran ini kami terima baik. Setelah berstatus sebagai tamu negara, kami di tempatkan di Hotel Kandara, hotel terbaik di Jeddah kala itu. Tidak lagi di gedung penginapan haji, yang saat itu keadaannya masih menyedihkan. Satu kamar yang harusnya hanya untuk delapan orang. dijejali sampai 40 orang.
Untuk transportasi dari Jeddah ke Mekkah, kami disediakan sebuah mobil Chrysler buatan Amerika Serikat. Kala itu saya merasa seperti seorang turis. Tapi ada satu hal yang membuat saya menyesal hingga saat ini, meskipun kejadian itu sudah berlangsung 32 tahun lalu. Ketika kami berkesempatan pagi-pagi sekali sebelum rombongan Raja Faisal melakukan tawaf, kami pun diberi kesempatan untuk bertawaf, masuk dan shalat di dalam ka'bah.
Sayangnya ketika dini hari saya dijemput di hotel, entah bagaimana saya masih tertidur. Rekan saya, almarhum Adirsyah, beruntung karena ia masuk dan shalat di dalam ka'bah. Dia menyatakan sangat bersyukur bisa shalat di depan ka'bah. Termasuk gubernur DKI Ali Sadikin.
Di Arafah, kami juga ditempatkan ditempat ber-AC dengan tikar permadani, bersama sekitar 30'an wartawan luar negeri. Setelah wukuf di Arafah, dan melontar di Mina, kami diundang oleh Raja Arab Saudi Faisal untuk menghadiri resepsi di Istana Kerajaan di Mina.
Saya sempat bersalaman dengan Raja Faisal, yang sambil tersenyum mengatakan: Ahlaan wa sahlaan. Dalam resepsi sejumlah askar (tentara) Arab Saudi menuangkan segelas kecil kopi kepada para tamu. Gubernur Ali Sadikin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Mohamad Natsir, dan Habib Muhammad Alhabsyi, pimpinan majelis taklim Kwitang turut hadir.
Ketika tengah membuat berita reportase kegiatan Presiden Suharto di gedung Antara, Jl Antara Pasar Baru Jarta Pusat, Oktober 1974, tiba-tiba resepsionis Antara memberitahukan ada telepon untuk saya. Yang menelpon ternyata Pak Bustaman, yang saat itu menjadi pembantu dekat Menteri Sosial HMS Mintaredja SH. alwi shahab
Untuk mengingat kembali seperti Berhaji pada TEMPOE DOELOE berikut saya sadurkan tulisan wartawan antara yang di muat di Harian Republika.
''Ada kabar gembira untuk anda. Bersama wartawan 'Merdeka' Adirsyah (kini sudah almarhum), Menteri menunjuk anda untuk menunaikan ibadah haji,'' ujarnya. Sulit membayangkan bagaimana gembiranya saya, mendapat undangan ini. Meski setahun sebelumnya (1973) saya sudah menunaikan ibadah umroh setelah menghadiri ulang tahun ke-10 kemerdekaan Aljazair di Aljir, namun dapat pergi ke Tanah Suci pada musim haji, merupakan rahmat yang tak terkira bagi saya.
Meskipun saya tidak melakukan selamatan, tapi beberapa hari menjelang keberangkatan, tamu-tamu termasuk para kerabat berdatangan untuk memberikan doa restu. Saat hendak meninggalkan kediaman di kawasan Tanah Abang menuju karantina haji di bekas markas KKO (kini Marinir) samping RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, saya yang berpakaian jas dan peci hitam (waktu itu belum ada seragam haji), dilepas secara meriah kumandang azan.
Banyak di antaranya meminta saya untuk memanggil-manggil namanya di depan Ka'bah dan menyampaikan salam pada Rasulullah saat berziarah ke Madinah. Begitu banyaknya permintaan hingga saya sendiri banyak lupa nama-nama mereka.Kala itu karantina haji berlangsung selama tiga hari. Istri dan anak-anak yang datang menjenguk, hanya bisa melihat saya dari luar pintu pagar. Kami dilarang bersalaman, kecuali bercakap agak jauh dengan suara agak keras.
Sekitar pukul tiga dini hari, kloter kami menuju Bandara Halim Perdanakusumah, tanpa bisa pamitan lebih dulu dengan keluarga. Keberangkatan pesawat kloter saya, hampir bersamaan berangkat pula kloter dari embarkasi Surabaya.Saat itu, pesawat yang berangkat dari Surabaya ini mengbelami kecelakaan di Kolombo, Srilangka. Seluruh calon jamaah haji yang berjumlah 300 orang termasuk para awak pesawat meninggal dunia. Kami mengetahui kecelakaan ini ketika tiba di Tanah Suci.
Tapi di Jakarta keluarga menjadi panik. Adik saya, Ali Shahab sampai ke Halimn PK dan baru menjadi lega setelah mendapat informasi bahwa pesawat yang jatuh berasal dari Surabaya. Waktu itu, untuk melakukan hubungan telpon dari Tanah Suci ke Tanah Air, masih sangat sulit.
Waktu itu, Jakarta menjadi transit bagi calon-calon jamaah haji daerah lain, seperti Kalbar, Sumsel, Jawa Barat dan DKI sendiri. Sementara fasilitas pengasramaan dan karantina terbatas. Asrama haji di Pondok Gede belum lagi dibangun. Asrama haji di Cempaka Putih hanya dapat menampung tidak lebih dari 1000 jamaah.
Jumlah jamaah haji Indonesia yang kini lebih dari 200 ribu orang, kala itu tidak lebih dari 40 ribu orang. Jumlah ini pun sudah membludak, karena tahun-tahun sebelumnya saat ke tanah suci melalui kapal laut, jamaah tidak pernah lebih dari 10 ribu orang.Waktu itu bukan main sulitnya menunaikan ibadah haji. Bisa menunggu bertahun-tahun. Bahkan seringkali terjadi, bila gilirannya tiba, calon jamaahnya sudah meninggal dunia.
Setiba di Tanah Suci, sebagai wartawan, saya dan rekan saya dari Tanah Air, segera mendatangi KBRI yang kala itu kantornya berada di Jeddah. Saya beruntung, ketika bertemu dengan Pak Arifin, Atase Penerangan RI di Arab Saudi, disebutkan bahwa Kementerian Penerangan Arab Saudi, setiap tahun mengundang dua orang wartawan dari negara-megara Islam sebagai tamu negara.
''Karena belum ada wartawan Indonesia yang terdaftar, bagaimana kalau saya daftarkan anda berdua sebagai tamu negara.'' Tentu saja tawaran ini kami terima baik. Setelah berstatus sebagai tamu negara, kami di tempatkan di Hotel Kandara, hotel terbaik di Jeddah kala itu. Tidak lagi di gedung penginapan haji, yang saat itu keadaannya masih menyedihkan. Satu kamar yang harusnya hanya untuk delapan orang. dijejali sampai 40 orang.
Untuk transportasi dari Jeddah ke Mekkah, kami disediakan sebuah mobil Chrysler buatan Amerika Serikat. Kala itu saya merasa seperti seorang turis. Tapi ada satu hal yang membuat saya menyesal hingga saat ini, meskipun kejadian itu sudah berlangsung 32 tahun lalu. Ketika kami berkesempatan pagi-pagi sekali sebelum rombongan Raja Faisal melakukan tawaf, kami pun diberi kesempatan untuk bertawaf, masuk dan shalat di dalam ka'bah.
Sayangnya ketika dini hari saya dijemput di hotel, entah bagaimana saya masih tertidur. Rekan saya, almarhum Adirsyah, beruntung karena ia masuk dan shalat di dalam ka'bah. Dia menyatakan sangat bersyukur bisa shalat di depan ka'bah. Termasuk gubernur DKI Ali Sadikin.
Di Arafah, kami juga ditempatkan ditempat ber-AC dengan tikar permadani, bersama sekitar 30'an wartawan luar negeri. Setelah wukuf di Arafah, dan melontar di Mina, kami diundang oleh Raja Arab Saudi Faisal untuk menghadiri resepsi di Istana Kerajaan di Mina.
Saya sempat bersalaman dengan Raja Faisal, yang sambil tersenyum mengatakan: Ahlaan wa sahlaan. Dalam resepsi sejumlah askar (tentara) Arab Saudi menuangkan segelas kecil kopi kepada para tamu. Gubernur Ali Sadikin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Mohamad Natsir, dan Habib Muhammad Alhabsyi, pimpinan majelis taklim Kwitang turut hadir.
Ketika tengah membuat berita reportase kegiatan Presiden Suharto di gedung Antara, Jl Antara Pasar Baru Jarta Pusat, Oktober 1974, tiba-tiba resepsionis Antara memberitahukan ada telepon untuk saya. Yang menelpon ternyata Pak Bustaman, yang saat itu menjadi pembantu dekat Menteri Sosial HMS Mintaredja SH. alwi shahab